Jakarta (1/2). Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237,6 juta jiwa, berdasarkan data BPS  saat ini 13,3 persen atau 31,6 juta orang tergolong miskin. Hal ini menunjukkan betapa tantangan bangsa ini kedepan semakin berat. Tantangan ini perlu dijawab dengan membuat grand desain untuk menjawab berbagai hambatan dalam penanganan kemiskinan. Dengan pola penanganan masalah kemiskinan saat ini yang melibatkan 19 Kementerian/ Lembaga perlu dilakukan evaluasi sejauh mana efektifitasnya

Salah satu hal yang krusial dalam menyusun grand desain penanganan kemiskinan ini adalah terkati dengan data kemiskinan. Saat ini kita ketahui beberapa institusi memiliki  standar yang berbeda dalam menentukan standar kemiskinan. Sehingga menurut Yusuf Wibisono (2011), data kemiskinan telah menjadi arena debat kebijakan yang kontroversial pasca jatuh-nya rezim orde baru. “Data kemiskinan kerap dituding manipulatif. Statistik kemiskinan telah menjadi komoditas politik yang panas. Angka kemiskinan yang terus menurun misalnya, secara diametral nampak berbeda dengan kondisi nyata dimana kemiskinan masih terjadi secara luas.

Ia mencontohkan, untuk implementasi program BLT yang ditujukan untuk meredam dampak kenaikan harga BBM 1 oktober 2005, BPS membangun basis data baru berbasis rumah tangga dengan 14 kriteria. Dan hasilnya, jumlah rumah tangga miskin penerima BLT adalah 19,2 juta rumah tangga. Jika kita asumsikan secara moderat setiap rumah tangga miskin memiliki 4 anggota, maka jumlah orang miskin pasca kenaikan BBM 1 Oktober 2005 adalah 76,8 juta jiwa (34,91%). Jika setiap rumah tangga kita asumsikan memiliki 5 anggota, maka angka kemiskinan akan melambung menjadi 96 juta jiwa (43,64%)! Angka ini konsisten dengan estimasi Bank Dunia yang mempergunakan garis kemiskinan US$ 2 per kapita per hari dan mendapatkan jumlah orang miskin tahun 2006 adalah 107,8 juta jiwa (49,0%). Bandingkan dengan jumlah orang miskin versi BPS per Maret 2006 yang hanya 39,05 juta jiwa (17,75%).

Berdasarkan pemutakhiran data terakhir oleh BPS pada tahun 2008, jumlah keluarga miskin (sangat miskin, miskin dan hampir miskin) ini telah berkurang menjadi 18,5 juta rumah tangga. Berdasarkan data ini, dan dengan asumsi sebuah keluarga terdiri dari 4-5 orang, maka angka kemiskinan yang lebih realistis pada tahun 2008 diperkirakan adalah 74-92,5 juta orang atau berkisar antara 32,64% – 40,80%. Bandingkan dengan angka kemiskinan resmi BPS untuk tahun 2008 yang hanya 34,96 juta orang atau 15,42%.

Perihal data saja, perlu adanya sebuah regualasi yang menjadi payung perbedaan ini.  Sehingga grand desain penanganan kemiskinan bisa dimuali dari hal yang mendasar ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *