Pohon Sawit

ItqanNews – Kelapa Sawit menjadi tanaman perkebunan penting di dunia (Hakim 2018). Kelapa Sawit termasuk tumbuhan tropis yang tergolong dalam famili Palmae dan berasal dari Afrika Barat. Menurut Hakim (2018), dari Kelapa Sawit dapat menghasilkan berbagai produk industri makanan, kimia, kosmetik, bahan dasar industri berat dan ringan, biodiesel, dan lain- lain. Hakim (2018) menjelaskan bahwa Kelapa Sawit diduga berasal dari Afrika yang didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Selanjutnya, Hakim (2018) menjelaskan bahwa beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada akhirnya, perkebunan sawit berkembang di dunia bersamaan meningkatnya permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19 (Hakim 2018).

Dalam perkembangannya, Indonesia menjadi Negara produsen minyak sawit (CPO = Crude Palm Oil) terbesar di dunia (Purba 2018). (Hendriani, Ningsih, and Firmansyah 2023) mencatat jumlah ekspor misnyak sawit Indonesia mencapai 37,3 juta ton dengan posisi 55% pangsa pasar global. Bahkan, Purba (2019) menjelaskan bahwa proyeksi konsumsi tahun 2050 minyak nabati utama dunia dapat mencapai 334,68 juta ton.

Manfaat Kelapa Sawit

Purba & Sipayung (2017) menjelaskan bahwa ada berbagai penelitian yang membuktikan adanya fungsi ekologis dari perkebunan sawit mencakup pelestarian daur karbon dioksida dan oksigen (proses fotosintesis, yakni menyerap karbon dioksida dari atmosfer bumi dan menghasilkan oksigen ke atmosfer bumi), restorasi degraded land konservasi tanah dan air, peningkatan bio-massa, serta karbon stok lahan (Henson, 1999; Harahap, Pangaribuan, Siregar, & Listia, 2005; Fairhurst & Hardter, 2004; Chan, 2002). Bahkan, mengurangi emisi gas rumah kaca/restorasi lahan gambut (Murayama & Baker, 1996; Melling dkk. 2005, 2007; Sabiham, 2013). (Purba and Sipayung 2017)

 

Limbah Kelapa Sawati juga dapat dimanfaatkan menjadi aneka produk. Pertama, Hasil identifikasi (Haryanti et al. 2014) mendapat bahwa pada tandan kosong kelapa sawit (TKKS) dapat dimanfaatkan sebagai PLT biomassa, pupuk dan bioetanol. Untuk cangkang kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai karbon/arang aktif, pembuatan pupuk cair kalium sulfat, pengawet alami tahu, bahan bakar (biomassa), briket.

Kedua,  Haryanti et al. (2014) juga telah mengidentifikasi bahwa sabut kelapa sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan penguat sifat mekanik komposit, fiber glass, pengolah limbah cair, pembuatan pulp, media tanaman alternatif, alternatif pengganti solar dan batubara sebagai bahan bakar pembangkit listrik. Haryanti et al. (2014) menjelaskan bahwa pada 1 ton kelapa sawit menghasilkan limbah berupa tandan kosong kelapa sawit sebanyak 23% atau 230 kg, limbah cangkang sebanyak 6,5% atau 65 kg, sabut 13% atau 130 kg. Umumnya limbah padat industri kelapa sawit mengandung bahan organik yang tinggi sehingga jika penanganan limbah secara tidak tepat akan mencemari lingkungan. (Penulis, ES Bahri)

Referensi

Hakim, Abdul. 2018. “Pengaruh Biaya Produksi Terhadap Pendapatan Petani Mandiri Kelapa Sawit Di Kecamatan Segah.” Jurnal Ekonomi STIEP 3(2):31–38. doi: 10.54526/jes.v3i2.8.

Haryanti, Andi, Norsamsi Norsamsi, Putri Suci Fanny Sholiha, and Novy Pralisa Putri. 2014. “Studi Pemanfaatan Limbah Padat Kelapa Sawit.” Konversi 3(2):20. doi: 10.20527/k.v3i2.161.

Hendriani, Shandra Ziva, Setiawati Ningsih, and Ricky Firmansyah. 2023. “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Larangan Ekspor Minyak Kelapa Sawit Di Indonesia Selama Pandemi: Literatur Review.” JEMSI (Jurnal Ekonomi, Manajemen, Dan Akuntansi) 9(2):1087–92.

Purba. 2018. Industri Sawit Indonesia Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional – Jan Horas Veryady Purba – Google Buku.

Purba, Jan. 2019. “Industri Sawit Indonesia Dalam Perspektif Minyak Nabati Global.” Buletin Agrohorti (January 2019):1–224.

Purba, Jan Horas V., and Tungkot Sipayung. 2017. “Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia Dalam Perspektif Pembangunan Berkelanjutan.” Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial Indonesia 43(1):81–94.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *