Efri S Bahri Mei - 2016Padang, efrisbahri.wordpress.com — Di dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 124 Allah SWT berfirman “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”

Ayat ini menjadi dasar yang menjelasan diturunkannya Adam dan Hawa dari surga ke bumi. Prof Dr M Mutawalli Asy-Sya’rawi dalam Al-Hajjul Mabrur mengatakan, Adam dan Hawa diturunkan berpisah tempat. Masing-masing mencari teman hidupnya sehingga mereka berjumpa kembali di suatu tempat bernama Arafah atau Arafa. (Republika, 1/11/2014). Arafah atau yang dikenal saat ini sebagai Padang Arafah menjadi tempat wukuf jemaah yang menunaikan ibadah haji. Di tempat inilah umat Islam yang menunaikan ibadah haji berdiam diri, berwukuf, berzikir dan bertaubat kepada Allah SWT.

Arafah adalah padang pasir yang menyimpan sejarah manusia. Dahulu, Nabi Ibrahim mengharapkan kelahiran anak. Sebab, bapak para Nabi itu belum mendapatkan anak meski sudah puluhan tahun menikah. Bahkan, dia mengatakan, seandainya dikaruniai anak, Ibrahim siap menjadikan anak itu sebagai kurban untuk Allah. Allah memerhatikan perkataan itu. Pernikahan Ibrahim dengan Sarah menghasilkan seorang anak, Ismail. Ibrahim kemudian bermimpi menyembelih anaknya. Dia bangun, kemudian merenungkan mimpi itu pada 8 Dzulhijah. Dia bertanya-tanya, apakah mimpi tersebut benar dari Allah atau bukan. Sehari kemudian dia mengetahui (‘arafa) benar mimpi itu dari Allah. Ketika itu, Ibrahim berada di padang Arafah. Dengan berat hati, Ibrahim berniat menyembelih Ismail pada 10 Dzulhijah. Namun, hal itu tak terjadi, karena Allah memerintahkan untuk menyembelih hewan kurban. Kisah Ibrahim dan Adam sama-sama menyiratkan makna, Arafah adalah tempat untuk mendekatkan diri kepada Allah. Manusia tak hanya memikirkan dirinya sendiri, atau orang lain. Mereka juga harus merenungkan dosa-dosa yang pernah diperbuat. Mereka kemudian memohon ampunan Allah, seperti yang dilakukan Adam, Hawa, dan Ibrahim, di Arafah. (Republika, 11/9/2016)

Sejarah peradaban yang telah dibangun oleh Nabi Adam AS dan Hawa lalu Nabi Ibrahim AS dan Sarah memberikan makna yang begitu mendalam bagi kita yang hidup di zaman sekarang ini. Pertama, pengakuan dosa. Setiap insan tentu memiliki kesalahan, kekhilafan yang disebut dengan dosa. Allah SWT telah menjadikan Adam dan Ibrahim sebagi model bagaimana cara manusia untuk mendapatkan ampunanNya. “Keduanya berkata, Ya Tuhan, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS al-A’raf: 23). Maka ketika manusia ingin mendapatkan ampunanNya, maka ia mesti bertaubat dengan sebenar-benar bertaubat kepada Allah SWT.

Kedua, pengorbanan. Allah SWT telah mengabadikan Nabi Ibrahim AS di dalam Al-Qur’an sebagai teladan ummat melalui pengorbanan yang luar biasa yang dikenal dengan Qurban. Di dalam Al-Qur’an dikisahkan bagaimana Nabi Ibrahim As diminta Allah SWT untuk menyembelih anaknya sendiri Nabi Ismail As. Kemudian atas kekuasaanNya Ismail diganti dengan seekor sembelihan yang besar (kibas). Hal sebagaimana diabadikan dalam QS Surat Ash Shaaffat ayat 102-107.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim. Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.

Qurban sering diistilahkan dengan udhiyah atau Dhadiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Pelaksanaan qurban ini dilaksanakan pada bulan dzulhijjah pada tanggal 10 dan 11, 12 dan 13 (hari tasyrik) yang bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha. Sejarah Qurban sebelum Nabi Ibrahim juga terjadi ketika Habil dan Qabail putera Nabi Adam As. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam QS Al-Maidah ayat 27 “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertakwa”.

Sejarah peradaban Qurban begitu bermakna sepanjang zaman karena Qurban sangta identik dengan sebuah pengorbanan. Kita bisa diberikan pembelajaran betapa sebagai anak yang sholeh, Ismail benar-benar yakin bahwa apa yang disampaikan ayahnya Ibrahim merupakan perintah Allah SWT. Pembelajran kedua adalah dari Nabi Ibrahim As. Dengan kepasrahan dan ketulusannya berqurban menjalankan perintahNya. Padahal Ismail adalah anak yang sangat dicintainya. Disinilah kita dapati melalui kisah Nabi Ibrahim As, Allah SWT memberikan pembelajaran kepada ummat manusia bahwa betapapun kita mencintai sesuatu termasuk anak kita, namun cintan kepada Allah SWT adalah segala-galanya sebagaimana ditunjukkan Nabi Ibrahim As.
Pengorbanan

Zaman memang sudah berganti. Penduduk bumi pun berganti generasi. Namun, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa tabi’at atau prilaku ummat manusia bisa melekat di jiwa-jiwa ummat manusia. Kita bisa melihat betapa Nabi Ibrahim As yang sudah kembali keharibanNya, namun prilaku atau akhlak Nabi Ibrahim As masih melekat pada jiwa-jiwa ummat manusia. Hal ini terjadi karena Nabi Ibrahim As memang bisa menjadi contoh dan teladan bagi ummat sepanjang zaman.

Salah satu contoh dan teladan itu adalah terkait dengan pengorbanan. Pengorbanan adalah sebuah sikap yang rela dan ikhlas melakukan sesuatu semata-mata karena Allah SWT. Nabi Ibrahim As telah menunjukkan pada ummat manusia betapa ia secara sungguh-sungguh dan ikhlas menjalan ibadah Qurban semata-mata memenuhi perintahNya. Hal ini dilakukannya dengan sebuah keyakinan akan kebenaran perintahNya.

Dalam konteks zaman sekarang ini, pengorbanan tentu masih sangat relevan untuk diaktualisasikan. Walaupun terkadang kita sulit untuk membedakan dan mengetahui apakah seseorang itu melakukan pengorbanan benar-benar ikhlas semata-mata karenaNya. Namun, contoh pengorbanan yang telah diabadikan Allah SWT melalui Nabi Ibrahim As bisa memberikan inspirasi dan pedoman bagi kita betapa tingginya nilai pengorbanan disi Allah Yang Maha Kuasa.

Penutup

Negara Indonesia dengan segala problematika sosialnya tentu membutuhkan jiwa-jiwa yang rela berkorban agar perubahan sosial dapat terwujud. Pengorbanan itu dapat diwujudkan dalam bentuk yang beranekaragam sesuai dengan kapasitas dan amanah yang diberikan. Yang penting apapun profesi kita, apapun yang kita lakukan kalau memang semata-mata dilakukan dengan landasan pengorbanan dan keikhlasan tentu akan menjadi kontribusi kita dalam memajukan bangsa. Nabi Ibrahim telah menunjukkan kepada ummat manusia, betapa Qurban telah membangun peradaban manusia. Saat ini kita mempertahankan bahkan memperkokoh pengorbanan itu. Wallahu a’lam bish showab.

Referensi:

  1. Republika, “Asal Usul Nama Padang Arafah”, 1/11/2014
  2. Republika, “Makna dan Sejarah Wukuf di Arafah”, 11/9/2016
  3. Efri S. Bahri, “Ibrahim dan Pengorbanan”, 25/10/2012, https://efrisbahri.wordpress.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *