Kampoeng Satelit
Kampoeng Satelit
Kampoeng Satelit

Daerah pinggir laut seakan menjadi tempat yang paling ditakuti oleh masyarakat. Terjadinya Tsunami (26 Desember 2006) yang melanda Nanggoe Aceh Darussalam dan Nias selanjutnya Tsunami yang melanda Banjarnegara Juli 2006 telah membuat masyarakat yang tinggal dipinggir pantai menjadi panik. Apalagi bagi saudara-sudara kita yang memang berprofesi sebagai nelayan, kemanalagi mereka akan mencari penghidupan kalau bukan dengan melaut.

Kenyataan diatas tidak membuat LAZNAS Baitul Maal Hidayatullah (BMH) menyerah. Di Muara Baru, yang berada di bibir pantai Jakarta Utara, aktivitas masyarakat Satelit Binaan BMH terus menggeliat. Berawal dari pengiriman 4 (empat) Da’i Hidayatullah di tahun 2000 dimulailah aktivitas Dakwah. Di Kampung Tebu Muara Baru Kelurahan Penjaringan Jakarta Utara di dirikan TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) Al-Hidayah dengan memanfaatkan rumah warga. Awalnya hanya 10 anak yang belajar. Sekarang alhamdulillah ada 300 anak ”harapan bangsa” yang dikelola.

Menurut M. Isnaini, selaku Manajer Program dan Pendayagunaan BMH, melalui TPA ini kita beharap dapat mencetak generasi anak shaleh. ”Oleh karena itu pendidikan di TPA ini berlangsung secara intensif dan integral. Sehingga nantinya mereka siap untuk mengikuti jenjang pendidikan selanjutnya, salah satunya di Pesantren Al-Qalam yang dirancang khusus untuk kader mujahid dakwah”, ujar Isnaini yang merintis TPA ini bersama 3 (tiga) rekannya sejak tahun 2000.

Siapa yang menyangka upaya yang dirintis para da’i ini mulai menggeliat. Kampung pinggir pantai yang berawal dari ”urukan” kini sudah berubah. Andi Amin, salah satu tokoh masyarakat yang sudah mendiami lokasi sejak tahun 1980-an bercerita, ditahun 1950-1977 kampung ini masih rawa-rawa. Baru tahun Tahun 1980-an pengurukan dari laut ke rawa-rawa. Tahun 1982-an baru ada beberapa rumah. Baru tahun 1990 banyak warga bermukim.

Berbagai kejadian penting di kampung ini cukup banyak memberikan pelajaran bagi warga. Di tahun 1994, pernah juga terjadi kebakaran. Begitu Juga tatkala banjir besar melanda Jakarta tahun 2002, kampung ini ikut terendam selama 2 (dua) pekan.

Yang membahagiakan adalah ketika tahun 1996 mulailah ada mushalla. Perlahan satu tahun berikutnya (1997), TPA Al-Hidayah juga dibangun. Syukur juga ditahun berikutnya melengkapi kebahagiaan masyarakat kampung tebu Muara Baru dengan adanya pembangunan masjid. Ditahun itu juga (1998), listrik sudah dapat dinikmati masyarakat.

Program Satelit Binaan BMH ini memang dirancang khusus berbasis pembinaan spiritual. Sehingga diharapkan masyarakat mempunyai kesiapan spiritual di dalam mencari solusi berbagai tantangan kehidupan baik ekonomi, sosial, pendidikan, dll. Untuk itu, senin (7/8/06) tim BMH sengaja melakukan kunjungan ke Satelit Binaan BMH yang ada di Muara Baru Penjaringan Jakarta Utara.

Kunjungan kali ini begitu bermakna. Pertama, melakukan silaturahmi dengan masyarakat Satelit Binaan dengan adanya ramah tamah di Masjid Al-Hidayah. Kedua, manfasilitasi masyarakat yang untuk terus melakukan perbaikan terhadap desa mereka secara mandiri. Sehingga tinggal di pinggir pantai dengan nuansa dakwah dapat menentramkan.

Penulis, Efri S. Bahri Anggota FAM Indonesia, IDFAM 1157U, FAM Bogor
(Catatan perjalanan dakwah kemanusiaan ke Muara Baru bersama tim BMH, 2006)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *