Artikel Efri S Bahri Menghadirkan Generasi Berjiwa Pahlawan
Artikel Efri S Bahri Menghadirkan Generasi Berjiwa Pahlawan
Setiap tanggal 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan. Hal ini dilakukan sebagai salah satu bentuk penghormatan terhadap para pahlawan yang telah berjuang baik di dalam meraih kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. Penetapan Hari pahlawan setiap tanggal 10 November didasarkan pada terjadinya peristiwa pertempuran di Surabaya tanggal 10 November 1945. Dimana terjadi pertempuran antara tentara Indonesia dan pasukan Belanda. Karena pertempuran ini merupakan perang pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah bangsa Indonesia memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia, maka peristiwa 10 November dianggap sebagai simbol-simbol perlawan bangsa Indonesia terhadap kolonialisme.

Berdasarkan Undang-Undang No.20 Tahun 2009, maka pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional. Menurut UU ini Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia.

Bagi kita sebagai generasi yang hidup di era modernisasi saat ini, kiranya perlu untuk mengambil pelajaran dari para pahlawan kita. Salah satu nilai-nilai yang tetap relevan adalah nilai-nilai kerelawan yang begitu melekat pada jiwa pahlawan. Kalau dulu pahlawan berjuang untuk menghadapi pertempuran dengan para penjajah. Saat ini bangsa ini juga sangat memerluka kehadiran jiwa-jiwa yang bernilai kerelawanan.

Dalam konteks berbangsa dan bernegara hari ini, sesungguhnya kita perlu menghadirkan generasi yang berjiwa pahlawan. Hal ini penting karena keberlangsungan hidup bangsa dan negara ini akan ditentukan oleh generasi mudanya. Ketika generasi mudanya memilki karakter sebagaimana seorang pahlawan maka kita menjadi optimis bangsa dan negara ini akan semakin maju.

Untuk mewujudkan generasi yang berjiwa pahlawan dapat dilakukan melalui berbagai instumen. Pertama, optimalisasi pendidikan. Pendidikan baik formal maupun informal merupakan sarana yang efektif untuk memberikan pembelajaran, pembelajaran serta peningkatan kapasitas generasi muda. Proses ini tentu sangat berperan di dalam membangun generasi yang berjiwa pahlawan. Pada pendidikan formal pembentukan jiwa pahlawan bisa dilakukan melalui efektifitas kurikulum dan kapasitas guru. Kurikulum yang tepat akan menjadi panduan kepada guru-guru sehingga terdapat standar mutu di dalam melakukan proses pendidikan. Begitu juga dengan guru sebagai sumberdaya utama, dapat berperan di dalam menfasilitasi dan memandu langsung para siswa sehingga interaksi antara guru dan pelajar melahirkan pemahaman dan karakter sebagaimana halnya seorang pahlawan.

Kedua, melalui optimalisasi media. Seiring dengan perkembangan teknologi, maka media pun saat ini berkembang sangat pesat dan luar biasa. Berbagai media saat ini hadir menjadi alternatif bagi setiap orang. Ada media cetak, elektronik bahkan yang mutakhir adalah media online. Media online khususnya melalui social media dianggap telah memecah kebekuan informasi dan komunikasi. Social media yang berkembang begitu cepat telah memberikan perubahan sosial, bahkan social media menjadi faktor kunci di dalam perubahan sbuah negara. Salah satu contoh adalah terjadinya perubahan besar terutama di timur tengah yang didorong oleh peran aksi social media. Oleh karena itu social media perlu dikelola dengan baik sehingga dapat dijadikan sebagai sarana dalam membangun generasi yang berjiwa pahlawan. Hal ini dapat dilakukan dengan membangun industri konten sosial media yang lebih bersahabat dan sehat. Dengan demikian social media pun dapat didayagunakan untuk membangun karakter generasi muda.

Ketiga, optimalisasi institusi keluarga. Keluarga adalah sarana utama menjadikan generasi muda yang berjiwa pahlawan. Keluarga juga merupakan institusi paling mendasar dan efektif untuk melahirkan generasi berjiawa pahlawan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengoptimalkan pola interaksi, komunikasi dan pembinaan di dalam setiap kelaurga. Sesungguhnya elemen dalam keluarga dapat menjadi jiwa-jiwa yang pahlawan tatkala masing-masing mampu mengaktualisasikan perannya secara optimal. Seorang anak akan menjadi pahlawan ketika mampu menunjukkan akhlak dan prestasi yang cemerlang. Begitu juga orang tua akan menjadi pahlawan tatkala anak-anak mereka memiliki akhlak yang mulia dan memiliki keberhasilan baik di dalam jenjang pendidikan maupun di masyarakat.
Masih banyak lagi instumen yang bisa digunakan untuk menghadirkan generasi berjiwa pahlawan. Harapan kita dengan lahirnya generasi muda berjiwa pahlawan maka mereka mampu menghadapi berbagai tantangan dalam dinamika kehidupan berbagsa seperti: kemiskinan, korupsi, keterbelakangan dapat diatasi. Dan peran generasi muda sungguh sangat kita harap dan nantikan. Wallahu a’lam bish showab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *